
BIREUEN - Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Kabupaten Bireuen, Mulyadi, SE., M.M., menghadiri Musyawarah Rencana Pelaksanaan Khanduri Rakyat dalam rangka tradisi turun sawah (Tron U Blang) di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Samalanga, Rabu, 21 Oktober 2026.
Musyawarah yang dihadiri Koordinator BPP Samalanga, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Keuchik, Ketua Kelompok Tani, dan tokoh masyarakat ini membahas persiapan teknis pelaksanaan khanduri rakyat menjelang Musim Tanam Rendengan 2026/2027.
Khanduri rakyat tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada Sabtu, 22 November 2026, dengan agenda utama doa bersama dan penyembelihan 7 (tujuh) ekor kerbau sebagai bentuk syukur dan tradisi adat menjelang turun sawah.
Dalam sesi dialog, petani Samalanga menyampaikan aspirasi utama terkait jaminan ketersediaan pupuk, khususnya pupuk bersubsidi, agar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan dan tersedia tepat waktu menjelang musim tanam.
Menurut petani, ketepatan waktu pupuk menjadi faktor penentu untuk menjaga jadwal tanam dan meningkatkan produktivitas padi.
Menanggapi hal tersebut, Kadistanbun Bireuen Mulyadi menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen mengawal distribusi pupuk subsidi.
"Samalanga ini adalah salah satu kawasan persawahan unggulan dan menjadi lumbung pangan Kabupaten Bireuen. Melalui musyawarah hari ini, kami ingin memastikan pelaksanaan khanduri rakyat berjalan lancar, khidmat, dan membawa berkah," ujar Mulyadi.
"Terkait pupuk subsidi, ini menjadi atensi serius kami. Alhamdulillah, Aceh baru saja meraih penghargaan sebagai provinsi tercepat nasional dalam penuntasan e-RDKK Pupuk Subsidi 2027 dari Kementan. Data Bireuen sudah tuntas dan valid. Kami pastikan akan kita kawal agar pupuk tersedia tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran sesuai data e-RDKK yang telah disahkan," tegasnya.
Mulyadi menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Distanbun Aceh, Pupuk Indonesia, dan distributor di Bireuen agar tidak terjadi kelangkaan di tingkat kios pengecer resmi.
Khanduri Rakyat Tron U Blang merupakan kearifan lokal masyarakat Aceh yang terus dilestarikan sebagai wujud kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama untuk keselamatan serta keberkahan hasil pertanian.

